YOGYAKARTA – Trijaya FM Yogyakarta, Sudah 2 tahun berjalan tepatnya sejak 11 Februari 2008 silam ketika terjadi perusakan kantor Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY oleh warga Bantul, namun hingga hari ini belum ada seorang tersangka pun yang ditahan oleh aparat kepolisian. Bahkan untuk bisa memeriksa bupati Bantul Idham Samawi yang diduga ikut memerintahkan warganya berunjukrasa ke kantor LOS juga masih menemui jalan buntu.

 

Hal ini mengemuka dalam Diskusi Refleksi 2 Tahun Perusakan Kantor LOS DIY, Rabu (10/2/2010) bertempat di kantor LOS. Dalam testimoninya, mantan ketua LOS DIY periode 2005-2008  Budi Wahyuni kembali menagih janji polisi dan kejaksaan negeri DIY untuk segera menyidangkan para tersangka serta memeriksa bupati Bantul Idham Samawi.

 

“ Ini menagih janji polisi dan kejaksaan negeri. Katanya Yogya kota pendidikan dan orangnya arif. Mana itu?,’ papar Budi terbata-bata.

 

Sementara itu Wakasetreskrim Poltabes Yogyakarta AKP Sudarsono menegaskan bahwa polisi serius menuntaskan kasus ini karena secara materiil formil bukti yang ada mencukupi. Hanya saja kendala ada di kejaksaan negeri Yogyakarta yang belum bersedia menyidangkan kasus di pengadilan dengan alasan menunggu surat ijin pemeriksaan bupati Bantul dari Presiden.

 

“ Untuk bisa meminta menjadi saksi bupati katanya perlu surat ijin dari Presiden. Makanya ini yang butuh waktu lama. Kalau kita siap saja karean secara materiil-formil segala bukti sudah ada dan mencukupi,’ terang Sudarsono.

 

Seperti diketahui 11 Februari 2008 kantor Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY dirusak ratusan warga Bantul. Sejumlah kaca jendela kantor tersebut pecah berantakan terkena lemparan batu. Perusakan itu  berawal dari unjuk rasa warga Bantul yang  ingin meminta penjelasan mengenai hasil penelitian LOS DIY yang menyatakan 40 persen dana Java Reconstruction Fund (JRF) korban gempa 27 Mei 2006 di Yogyakarta salah sasaran. Dari kasus tersebut polisi baru menetapkan 3 orang tersangka yaitu KardiyonoAssekda 1 Bantul, Kandiawan Kepala Sat Pol PP serta Sulistio Koordinator Paguyuban Dukuh Bantul (real)